Pelajaran Bahasa Madura Diusulkan Masuk Kurikulum Sekolah

TEMPO Interaktif, Pamekasan -Rencana Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur untuk memasukkan pelajaran bahasa Madura ke dalam kurikulum pendidikan di Sekolah Dasar hingga jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas masih terkendala minimnya sumber daya manusia.

Pemerintah kesulitan menemukan tenaga pengajar yang betul-betul menguasai tata bahasa Madura yang benar sesuai kaidah. Wakil Ketua DPRD Pamekasan Khairul Kalam mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, kesulitan menemukan tenaga pengajar yang ahli kaidah bahasa Madura merupakan bukti bahwa saat ini regenerasi ilmu bahasa Madura tidak berjalan.

Kondisi itu, kata dia, diperparah dengan sistem pendidikan yang selama ini berjalan di sekolah yang lebih mengarahkan siswa menguasai kaidah bahasa Indonesia. "Sekarang anak-anak muda jarang berbahasa Madura, mereka lebih suka berbahasa Indonesia sehari-hari," katanya, Minggu (6/6).

Menurut Khairul, satu-satunya lembaga pendidikan yang hingga kini punya peran penting melestarikan bahasa Madura hanyalah pondok pesantren dan Madrasah Diniyah, karena seluruh pelajaran yang diajarkan disampaikan dengan bahasa Madura. "Tapi yang menjadi kendala, orang pesantren tidak berijazah, sehingga untuk mengajar di sekolah negeri tidak memenuhi syarat," ujarnya.

Dia berharap pemerintah daerah Pamekasan punya langkah inofatif dan terobosan agar rencana memasukkan pelajaran bahasa Madura ke sekolah tetap bisa terlaksana sehingga bahasa madura tetap bisa lestari. Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Kebudayaan Pamekasan Yusuf Suhartono sebelumnya mengakui kendala tenaga pengajar tersebut. Salah solusi yang diharapkan mampu mengatasi masalah minimnya tenaga kerja tersebut adalah membuka program study bahasa Madura di sekolah tinggi dan universitas, sesuai dengan hasil Kongres Madura I yang digelar tahun 2008 lalu.

"Namun sulit merealisasikan itu, sejumlah sekolah hanya berencana menambah satuan kredit semester untuk pelajaran bahasa madura di salah satu sekolah tinggi," terangnya. Yusuf mengakui terjadinya pergeseran budaya berbahasa tidak hanya di masyarakat perkotaan tapi juga pedesaan.

Dimana, orang tua lebih bangga anaknya tahu berbahasa Indonesia ketimbang bahasa madura sebagai bahasa ibu. "Kami akan tetap komitmen bahasa Madura masuk kurikulum, tapi kami kelabakan mencari tenaga pengajar," ungkapnya.
Sumber : Tempo interaktif

Artikel Terkait :



0 komentar:

Posting Komentar